Berbagi Sampan Demi Sebuah Asupan

Posted: Oktober 17, 2013 in Uncategorized

2

Dayung sampan…Dayung sampan…Datang dari negeri cina…Merupakan penggalan lirik dari lagu yang berjudul dayung sampan. Sampan merupakan bahasa Tionghoa yang memiliki arti secara harfiah, yaitu sebuah perahu kayu tiongkok yang memiliki dasar relatif datar yang di gunakan sebagai alat transportasi atau sebagai alat pemenuhan kebutuhan hidup ( memancing ikan ) dan dalam bahasa kanton, sampan merupakan Sam ( tiga ) dan Pan ( Papan ). Sampan yang berarti perahu yang memiliki dasar datar dari sebuah papan dan pada kedua sisi nya juga memakai bahan dasar papan, Jadi sampan merupakan perahu berdasar datar yang terbuat dari tiga lembar papan.

Sampan mayoritas di gunakan oleh penduduk pedalaman di Asia tenggara, Salah satu nya adalah Indonesia. Sejak jaman dahulu kala Indonesia adalah bangsa bahari terbukti dari beberapa penemuan-penemuan situs bersejarah yang menggambarkan nenek moyang kita dengan perahu contoh nya di goa-goa pulau muna, seram dan lain-lain bahkan sampai sekarang terkenal sebagai negara kepulauan. Sampan di Indonesia mempunyai banyak sebutan salah satu nya ” Jukung “, dibuat dari sebatang kayu besar dan di pahat bagian tengah nya sehingga membentuk rongga untuk penumpang ataupun barang. Jika di Sulawesi Selatan di sebut ” Lepa-lepa “. Bentuk sampan di Indonesia kurang lebih sama, pada bagian depan dan belakang di buat lebih meruncing dan tipis yang bertujuan untuk lebih cepat dalam bermanuver dengan fungsi untuk menangkap ikan, menjala ikan dan transportasi serta hanya bisa dinaiki 2 atau 3 orang.

Desa kertasari, Kecamatan Taliwang, Sumbawa Barat, Indonesia merupakan sebuah desa budidaya rumput laut. Desa yang terletak 10 km dari Taliwang ini merupakan zona pengembangan perekonomian berbasis masyarakat dengan produk unggulan rumput laut. Dahulu jalanan ( akses ) menuju desa kertasari sangat tidak layak padahal komoditi mereka ( Rumput Laut ) menjadi komoditi unggulan untuk wilayah Sumbawa Barat, menurut pak samin warga desa kertasari yang menggantungkan hidup nya kepada rumput laut. Tetapi ketika saya sambangi pada tahun 2013, akses menuju desa sedang di bangun, untuk mempermudah warga desa dan dari luar desa untuk bertransaksi rumput laut dan sudah ada angkutan menuju desa kertasari dari Taliwang dengan tarif 10 ribu atau menggunakan ojek dengan tarif 25 ribu.

Memasuki desa kertasari, pamandangan pertama muncul adalah keramahan penduduk yang tersenyum ketika ada orang baru tiba di desa, anak-anak kecil berlarian di sudut-sudut jalan desa dan ” Panas “. Sejenak hawa panas tersebut hilang ketika rumah-rumah pedesaan berganti dengan pemandangan pantai nan aduhai,  wangi khas pantai segera menyeruak hidung seketika saya membuka kaca jendela kendaraan yang saya tumpangi. Desa kertasari mempunya pantai yang nama nya sama dengan nama desa nya, pantai ini memiliki garis pantai yang panjang dengan pasir yang halus serta gundukan karang besar menambah indah nya pemandangan desa tersebut.

ketika pertama kali menginjakan kaki pantai kertasari, ada pemandangan yang unik dan menjadi pertanyaan di benak. Ada banyak gubug-gubug di sepanjang bibir pantai kertasari, langsung saya menghampiri salah satu gubug untuk mencari tahu ada apa kah gerangan dengan gubug tersebut. Ternyata merupakan gubug para petani rumput laut, tepat di depan gubug banyak rumput laut yang sedang di jemur dan di samping nya sampan – sampan bergeletak di pasir pantai yang halus.

Pak samin merupakan salah satu dari entah berapa banyak petani yang membudidayakan rumput laut di desa kertasari, menyambangi gubug tempat ia tinggal sekaligus tempat penyimpanan rumput laut. Pak samin yakin dengan membudidayakan rumput laut dapat menopang keluarga nya walaupun cara pembudidayaan nya masih sangat sederhana. Pembudidayaan rumput laut di desa kertasari menggunakan metode apung ( floating method ), seperti rakit-rakit apung dari tali dan jika panen tali-tali tersebut di penuhi oleh rumput laut kemudian di tarik ke bibir pantai untuk di panen. Menurut penuturan bapak samin proses penanaman rumput yang baik tergantung dari pemilihan lokasi, dimana lokasi perairan harus tenang jika ingin menggunakan metode apung serta terlindung dari pengaruh angin dan ombak tidak lupa juga kualitas air. Kriteria tersebut sangat cocok dengan pantai kertasari, oleh karena itu hasil rumput laut dari desa kertasari mempunyai kualitas baik.

Melihat foto sampan di salah satu finalis dari Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia, jadi teringat kisah bapak samin akan sampan nya yang tergeletak disebelah gubug sederhana tempat tinggal yang menurut saya sangat damai. Berawal dari slogan Pariri Lema Bariri yang merupakan slogan Sumbawa Barat dengan arti ” Segera untuk dibenahi bersama ” atau ” Membangun agar bermanfaat untuk bersama “. Dari arti slogan itu pak samin berkisah, walau kami ( para petani rumput laut ) hidup serba pas-pas an tetapi kami hidup saling mengisi dan berbagi. Seakan menjawab pertanyaan saya tentang jumlah sampan yang lebih sedikit dari jumlah petani yang ada di bibir pantai kertasari, pak samin menjelaskan bahwa sampan-sampan yang tergeletak merupakan milik beberapa orang petani rumput laut tetapi sampan itu boleh oleh digunakan petani lainnya untuk memantau lahan rumput laut nya secara bergantian bahkan ketika panen tiba beberapa petani rumput laut saling bahu membahu menarik rumput laut nya dari pantai menuju bibir pantai dengan menggunakan sampan walau itu bukan sampan dan lahan rumput laut nya yang sedang panen.

Melanjutkan kisah nya, pak samin berpindah tempat dari teras rumah nya menuju sampan dan duduk sambil menunjukan hasil panen rumput laut yang sudah di bersihkan dan di keringkan ( Jemur ). Dalam proses penjemuran ( pengeringan ) biasa nya para petani rumput laut berjaga bergantian mengamati rumput laut nya, mereka mempunyai spot favorit saat berjaga yaitu sampan. Sampan yang di gunakan secara bersamaan menjadi tempat berbagi informasi seputar rumput laut dan kadang bercerita keluh kesah kehidupan pribadi.

Hasil ekstrasi rumput laut digunakan untuk bahan industri makanan, farmasi, kosmetik, tekstil, kertas dan lain-lain. Walaupun rumput laut desa kertasari menjadi komoditas utama kecamatan taliwang tetapi masih sedikit para petani nya yang hidup cukup tetapi di tilik dari kisah pak samin bahwa rasa berbagi mereka menimbulkan rasa syukur yang luar biasa sehingga hidup mereka seakan tidak kekurangan.

Sampan yang fungsi nya sebagai alat untuk menangkap ikan dan transportasi sangat mempunyai arti sebagai pengikat tali silaturahmi para petani rumput laut di desa kertasari yang saling berbagi dan pada akhir nya dapat menjadi pemenuhan hidup.

Photo By : CumiMzToro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s