Pang(Ka)lima Dataran Hulu

Posted: Oktober 19, 2013 in Uncategorized

Pangkalima

Jika mendengar kata dayak yang pertama terbersit di pikiran adalah kalimantan yang merupakan pulau terbesar ketiga di dunia, Terletak di Indonesia tepat nya pada sebelah utara Pulau Jawa dan di seberalah barat Pulau Sulawesi. Nama lain Kalimantan adalah Borneo, yang berasal dari Kesultanan Brunei dan di pakai oleh kolonial Inggris dan Belanda untuk sebutan pulau ini secara keseluruhan. Ada beberapa asal-usul Kalimantan menurut etimologi nya, salah satu nya adalah Klemantan yang merupakan nama buah mangga lokal. Jadi Kalimantan merupakan pulau mangga.

Suku Dayak adalah sebuah suku yang berasal dari pulau Kalimantan. Suku dayak memiliki budaya menetap di daerah dataran yang berundak-undak dan sampai ke hulu sungai atau arti harfiah nya suku yang tinggal di daerah dataran yang hampir setiap aspek kehidupannya di lakukan di daratan seperti berburu, bertani dan berkebun. Namun menurut C. Hose dan Mac Dougall dalam buku nya ” Natural Man, a record from Borneo ( 1926 ) terdapat dayak iban yang merupakan suku dayak yang menetap di pesisir pantai dan bergantung pada laut dalam pemenuhan kehidupannya.

Ada berbagai hikayat tentang asal-usul suku dayak tapi entah mana yang merupakan paling tepat, tetapi tidak ada salah nya untuk mengetahui cerita tersebut karena cerita-cerita tersebut merupakan kebudayaan bangsa Indonesia. Salah satu nya berdasarkan manuskrip berhuruf kanji Dinasti Ming tahun 1368-1643, bahwa nenek moyang orang dayak berasal dari China Selatan ( Yunnan ). Mereka bermigrasi secara masal dari Indo-China merambah jazirah melayu dan kemudian memasuki pulau-pulau kawasan Indonesia. Selain itu ada beberapa kelompok yang bermigrasi melalu Haman, Taiwan dan Filipina, Kala itu merupakan zaman glazial ( Zaman Es ) jadi memudahkan migrasi lewat laut dengan hanya menggunakan perahu-perahu kecil mereka dapat menyebrangi perairan yang memisahkan pulau-pulau tersebut karena permukaan air laut surut.

Teori migrasi tersebut menjawab kenapa suku dayak mempunyai keragaman bahasa dan budaya dan suku dayak di bagi dalam enam rumpun :

  1. Rumpun Klemantan
  2. Rumpun Iban
  3. Rumpun Apokayan
  4. Rumpun Murut
  5. Rumpun Ot Danum – Ngaju
  6. Rumpun Punan

Namun menurut kepercayaan secara lisan turun temurun Dayak terutama yang bermukim di pedalaman kalimantan bahwa asal – usul nenek moyang suku dayak di turunkan dari langit yang paling tinggi ( langit ke tujuh ) dengan ” Palangka Bulau ( Palangka Bulau = Suci, bersih di turunkan dari langit ) atau di sebut juga sebagai ” Ancak atau Kalangkang ” . Suku dayak menetap di berbagai topografi seperti gunung, lembah, kaki bukit atau pun pesisir pantai tetapi biasa nya tidak jauh dari aliran sungai besar oleh karena itu suku dayak biasa nya memakai nama aliran sungai besar dekat daerah nya menetap, seperti orang dayak yang menetap dekat aliran sungai kahayan mereka menyebut jati diri mereka sebagai uluh kahayan, ada juga uluh barito dan lain – lain.

Pangkalima ( Baca : panglima ) merupakan sosok pemimpin tertinggi suku dayak. Banyak cerita menggambarkan bahwa pangkalima merupakan pemimpin perang, spiritual dan sosok yang dapat memberikan petunjuk serta penuh kharismatik. Ada juga yang berkisah bahwa pangkalima merupakan jelmaan mahluk gaib yang dapat berubah wujud sesuai dengan situasi dan kondisi. Dari sekian banyak kisah yang beredar tentang pangkalima di masyarakat tapi pada umum nya pangkalima merupakan sosok yang menggambarkan orang dayak pada umum nya, baik dalam segala tindak – tanduk nya, sabar serta cinta akan tempat ia menetap ( Kalimantan ) yang dimana dianggap sebagai tanah suci nya yang merupakan warisan nenek moyang. Namun ketika tanah warisan nenek moyang nya di usik bisa berubah 180 derajat tetapi walau begitu sifat orang dayak berpegang teguh pada aturan dan norma di mana kekerasan merupakan pilihan terakhir dan memilih jalan damai. Dikala kesabaran telah habis dan jalan damai tidak bisa di tempuh barulah tabuhan perang akan di kumandangkan oleh pangkalima.

Mangkok merah merupakan acara ritual suku dayak sebelum pergi berperang, itu di lakukan biasa nya jika hanya tanah warisan nenek moyang dalam ancaman. Mangkok merah biasa nya tidak sembarang di edarkan, sebelum nya pangkalima melakukan acara adat untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memulai peperanan. Di dalam upacara adat ini roh para leluhur akan merasuki tubuh pangkalima lalu ber ” Tariu ” ( memanggil bantuan roh para leluhur dalam melaksanakan perang ) dan orang – orang dayak yang mendengarkan ” Tariu ” tersebut akan mempunyai kekuatan dan semangat seperti pangkalima namun untuk orang yang jiwa nya tidak stabil akan menyebabkan efek lain seperti sakit maupun gangguan jiwa.

Mangkok merah merupakan pemersatu suku dayak, karena meraka akan berpartisipasi dan membelan tanah warisan nenek moyang nya ketika terancam. Mangkok merah merupakan mangkok sederhana yang terbuat dari tanah liat ( ada yang bilang dari bambu ) berbentuk bulat. Dalam perlengkapan ritual tidak hanya mangkok merah tetapi ada alat pendukung seperti ubi jerangau merah ( melambangkan keberanian ), bulu ayam merah, obor dari bambu, daun rumbia dan tali simpul dari kulit kepuak ( Lambang pemersatu ) kemudian semua perlengkapan tersebut di kemas di dalam mangkok dan di bungkus kain merah. Entah sudah berapa kali sampai sekarang acara ritual mangkok merah di adakan oleh pangkalima namun menurut cerita beredar mangkok merah pertama kali di lakukan ketika jaman penjajahan jepang.

Pangkalima merupakan pemimpin yang di agungkan dalam suku dayak tetapi karena sikap rendah diri nya pangkalima tidak tinggal di dalam istana, pangkalima lebih memilih menyatu dengan alam dan pangkalima jarang unjuk kekuatan selayak nya sifat orang dayak yang ketika memasuki masyarakat heterogen tidak membawa senjata seperti mandau,sumpit ataupun panah kecuali dalam keadaan terdesak orang dayak akan membawa senjata nya untuk mempertahankan diri dan tanah warisan nenek moyang nya atau pun hanya untuk berburu.

Mengapa Pangkalima ? Karena memang ada 5 pimpinan teratas yang ada di suku dayak yang secara mitos maupun sejarah lisan terkenal seantero borneo sebagai satu leluhur. kelima pangkalima tersebut adalah :

  1. Pangkalima Guntur : Menurut orang dayak, apabila beliau turun gunung dari pertapaannya akan disertai suara gemuruh guntur. Dikenal juga sebagai Pangkalima Angsa ( guntur atau Kilat )
  2. Pangkalima Naga Sabui : Menurut orang dayak bahwa beliau bertapa di gunung tempat naga sabui dan konon gunung tersebut selalu berpindah tempat.
  3. Pangkalima Burung : Merupakan penjelmaan burung enggang yang di kenal sebagai burung keramat dan suci di kalimantan.
  4. Pangkalima Batur
  5. Pangkalima Antang

Eksploitasi berlebihan di kawasan hutan tempat hunian masyarakat adat Dayak, berperan sangat besar terhadap musnahnya adat isatiadat dan budaya setempat. Hutan bagi masyarakat adat Dayak bukan hanya sekedar tempat tinggal atau tempat berusaha. Hutan bagi mereka adalah tanah warisan leluhur yang merupakan ibu pertiwi. Potret Pangkalima di salah satu finalis foto ” Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia ” ( Agustian Teddymenginspirasi saya untuk menulis tentang pimpinan tertinggi suku dayak yang menurut saya pada jaman sekarang ini banyak  sosok pangkalima yang mempertahankan tanah leluhurnya karena eksploitasi berlebihan yang menyudutkan adat istiadat sehingga terdesak oleh gerusan jaman.

Photo by : Agustian Teddy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s