Berawal dari kisah anak ihan (ikan) yang melegenda

Posted: November 20, 2013 in Uncategorized

Toba 2_Snapseed

Alkisah seorang pemuda bernama Toba yang mempunyai hobi memancing, suatu hari ketika sedang memancing ia mendapatkan ikan besar yang menjelma menjadi seorang putri cantik jelita. Toba jatuh cinta dan kemudian menikahi putri tersebut dengan perjanjian tidak mengungkit masa lalu nya. Mereka di karuniai seorang anak laki-laki yang sangat aktif bernama Samosir. Samosir suka ikut Toba ke ladang tetapi bukan untuk membantu melainkan menghabiskan bekal makanan sehingga Toba sering kelaparan ketika selesai berladang. Habislah kesabaran Toba dan membentak Samosir “: Dasar Anak Ikan “

Samosir berlari pulang sambil menangis dan melapor kepada sang ibu. ” Apakah betul aku anak ikan ? “, ibu nya sedih sekali Toba sudah melanggar perjanjian nya sebelum menikah. Maka yang ditakutkan pun tiba, terjadilah bencana hujan lebat berhari-hari di sertai topan dan badai yang menggeliat. Alam pun bermuram durja ketika hati seorang ibu terluka, maka banjir bandang menggenangi pegunungan yang indah itu dan terciptalah sebuah danau di celukan pegunungan dengan pulau di tengah nya.

Itulah salah satu legenda tentang danau toba dan pulau samosir yang di ceritakan andi seorang teman perjalanan ku dari Binjai yang memecah lamunan ku tuk segera melanjutkan perjalanan dari tempat kami mengisi perut di Berastagi menuju danau toba. Perjalanan dari medan menuju danau toba selain disuguhi panorama alam yang menakjubkan tetapi juga di penuhi informasi-informasi menarik tentang danau toba yang di ceritakan andi makin membuat ku tidak kerasan di dalam mobil, ingin cepat-cepat melihat langsung The Pearl of Southeast Asia yang merupakan mahakarya alam Indonesia.

Jalan ini sungguh romantis gumam ku, berkelok-kelok di selimuti kabut menambah kesan mistis dengan jurang yang dalam di sisi jalan namun pemandangan danau toba menepis semua rasa cemas akan jalur yang ku lewati apalagi ketika memasuki ketika memasuki kawasan tele yang notabene titik tertinggi di tepi danau toba. Andi menjelaskan kepada ku bahwa perjalanan ke danau toba melewati berastagi dapat sampai ke pulau samosir tanpa menyebrang menggunakan ferry karena ada jembatan yang menghubungi daratan sumatra dengan pulau samosir di pengururan ibukota kabupaten Samosir. Hmmmm….menurut ku pulau samosir itu bukan pulau secara geografis tetapi sebuah semenanjung yang terhubung ke daratan, tapi mungkin disebut pulau agar lebih menarik bagi wisatawan tapi toh menurut ku Danau toba dan Pulau samosir sudah sangat menarik dengan sebutan apapun.

Sinar mentari pertama di pulau samosir, langsung teringat informasi yang kudapat dari mesin pencari online bahwa pulau samosir yang panjang nya sekitar 50 km dengan lebar sekitar 20 km serta terdapat danau Sidihoni menjadikan pulau ini sangat unik karena ada pulau diatas pulau dan danau diatas danau, tak sabar kaki ini ingin segera bergegas untuk melangkah. Sejauh mata memandang melihat pegunungan dan perbukitan menghampar hijau menghipnotis mata ini selain dengan keindahan juga dengan jarak, seolah dekat untuk mencapai nya namun berbeda ketika kita jalani karena pegunungan dan perbukitan melingkari area ini.

Pagi itu kami berangkat menuju Sidihoni yang terletak di kecamatan Pengururan, pulau Samosir yang terdapat sebuah danau yang sering berubah warna dan menurut penduduk setempat perubahan warna tersebut di hubungkan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Indonesia. Perjalanan kami melewati Tolping, makam leluhur Batak kemudian setelah itu melewati jejeran hutan pinus dan kemudian pemandangan yang cukup aneh tergeletak nya gelondongan kayu pinus yang siap diangkut dalam jumlah banyak. Apakah kelak akan gundul jejeran pinus ini ? Apakah penebangan ini resmi atau tidak ? ahhh sudahlah, dengan pandangan kosong terus kunikmati perjalanan ini.

Rehat sejenak di kampung tua Hutta Bolon yang terdapat museum di daerah Sakkal Simanindo, Komplek museum yang di kelilingi pohon bambu dengan pintu gerbang layak sebuah benteng dan didalam nya terdapat rumah raja atau rumah bolon serta lumbung atau poso yang semua nya berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu. Berkeliling sejenak di komplek museum ini, aku melihat sebuah perahu yang cukup panjang. Menurut andi itu merupakan alat transportasi raja di kala itu lalu beranjak ke bagian belakang komplek yang terdapat dua buah pohon beringin raksasa yang entah sudah berapa puluh tahun usia atau mungkin ratusan. Selain itu di komplek museum ini juga tiap hari nya di tampilkan tarian batak tradisional yang menurutku menjadi daya tarik, karena terbukti banyak turis asing ikut menari….terus kenapa turis lokal tidak antusias ikut menari, entah lah…aku tak ambil pusing karena aku ikut ambil bagian dalam kelompok penari itu dan mengikuti irama walau entah gerakan apa yang aku lakukan.

Sepanjang perjalanan danau toba ada disisi kanan kami, rasa nya ingin buka baju dan menceburkan diri tetapi untuk saat itu cukup aku nikmati saja, itu membuat suasana hati menjadi tenang dengan menyaksikan pemandangan tersebut selain itu juga ada yang unik menurut ku entah berapa banyak tugu yang kulihat di sepanjang perjalanan, tugu tersebut merupakan makam tetapi tidak timbul kesan angker. Tiba di kota kecamatan Pangururan, kami mengisi perut di sebuah warung makan dengan menu mujaer goreng,arsik ikan mas,sayur daun singkong dan tidak ketinggalan jus terong belanda tambah nikmat lagi di karenakan harga nya sangat bersahabat bagi ku.

Perut kenyang hati pun senang, melanjutkan perjalanan menuju Danau Sidihoni yang berjarak 8 Km dari Pangururan dari arah pasar ( Pekan ) Ronggur Ni Huta dengan jalanan menanjak dengan beberapa bagian jalan yang rusak walau begitu tetap banyak yang melewati jalan tersebut bahkan kendaraan umum berwarna-warni dengan entah berapa banyak penumpang karena terlihat sampai keluar badan kendaraan tersebut, cukup riskan memang tapi semua itu adalah alasan pemenuhan ekonomi. Di suatu spot sekitar ketinggian 2000 Mdpl, dapat terlihat puncak Pusuk Buhit dari kejauhan di percaya gunung ini merupakan asal muasal orang Batak.

Tiba di Danau Sidihoni dengan pemandangan sekitar hamparan hijau rerumputan bak permadani dan berbukit-bukit landai dengan deretan pohon pinus, segera kulepas alas kaki dan berjalan di hamparan rumput tersebut. Danau yang berair jernih ini belum di kelola dengan baik dengan minim nya fasilitas umum dan sebagian besar penduduk masih memanfaatkan danau ini sebagai MCK ( mandi cucu kakus ). Serombongan turis lokal di di danau dengan menggunakan guide dan akupun dengan tidak tahu malu ikut mendengarkan penjelasan guide tersebut. Dahulu Danau Sidihoni luas nya 24 hektare tetapi karena permukaan air nya menyusut akibat gempa bumi yang di sertai tsunami melanda Aceh pada desember 2004 luas danau ini pun jadi menyusut entah berapa tepat nya karena suara guide hanya terdengar sayup-sayup di telinga ku. Danau Sidihoni bukan satu-satu nya danau di pulau Samosir ada sebuah danau lagi dengan ukuran lebih kecil yang bernama Danau Aek Natonang terletak di desa Tanjungan kecamatan Samanindo, Pulau Samosir.

Disini saya berpisah dengan Andi karena ingin kembali ke Medan melalui Pematang Siantar dan harus nyebrang ferry ke Prapat yang merupakan salah satu kota tempat singgah jika ingin menikmati panorama Danau Toba. selama penyebrangan menuju Prapat aku membaca sebuah selembaran wisata yang aku dapat sebelum menaiki ferry, dijelaskan bahwa Danau Toba kaya akan beragam ikan salah satu nya adalah ikan pora-pora ( ikan teri berukuran besar – Mystacoleusues padangensis) yang mengandung omega 3 untuk kesehatan otak. Ikan pora-pora menjadi andalah nelayan lokal untuk menghidupi keluarga. Nama latin ikan pora-pora Mystacoleuseus Padangensis, kenapa disebut sebuah daerah di Sumatra Barat sedangkan ikan ini berada di Danau Toba yang notabene letak nya di Sumatra Utara. Karena awal nya bibit ikan pora-pora di bawa dari danau Singkarak, Sumatra Barat yang lebih di kenal sebagai ikan bilih atau ikan perak tetapi karena kondisi air Danau Toba yang mungkin lebih baik, ikan ini tumbuh lebih besar dan lebih cepat dan harga nya berkisar Rp. 4.000 sampai dengan Rp. 7.500 per kilogram. Ikan pora-pora ini membawa berkah bagi sebagian besar nelayan danau Toba, walau sawah dan ladang tidak punya tetapi berkah danau Toba melalui ikan pora-pora dapat menghidupi mereka.

Sampai di Prapat dan bermalam sebelum besok melanjutkan perjalanan menuju medan tetapi masih menyangkut suatu event yang aku baca di selembaran tadi ” Horas Samosir Fiesta “, maksud hati ini mencari tahu melalui internet tapi ada daya kantuk ini tak tertahankan. Pagi telah menyingsing, aku pun bersiap meninggalkan Prapat menuju medan tetapi ada beberapa tempat yang akan aku singgahi sebelum akhir nya sampai di Medan..

Melintasi jalur Prapat dengan udara sejuk lalu mampir ke daerah Simalungun tepat nya ke Pematang Purba, disini terdapat rumah adat raja purba yang merupakan Raja ke 12 dengan gelar Tuanku Rahalim yang mempunyai 12 istri dan semua istri nya menempati suatu rumah besar setelah itu perjalanan kembali di lanjutkan menuju puncak Simarjarunjung dengan hawa dingin membuat badan bergetar, untung lah perjalanan ini rehat untuk menghangatkan tubuh dengan menikmati bandrek dan pisang goreng serta pemandangan danau Toba dari ketinggian berwarna kebiruan dengan gradasi hijau. lanjut ke Tongging, nah jalur Simarjarunjung – Tongging ini sangat-sangat lah indah sepanjang jalan berkelok-kelok, naik turun-bukit dengan di ikuti Danau Toba tak putus dari pandangan kemudian di Tongging sekelebatan melihat kegagahan air terjun sipiso-piso yang menjulang tinggi sehingga buih buih air seperti terbang di udara setelah itu memasuki daerah Kabanjahe dan danau toba sudah tidak tampak dan tertinggal jauh di belakang.

Begitulah Danau Toba yang merupakan “Hosa” ( Nafas ) yang merupakan bagian dari kehidupan bagi kami dan berkah pemberian Tuhan Yang Maha Kuasa, Tulisan ini di ikutan kan dalam Blogger Competition yang bertajuk ” ‘Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s